Pendiamku hanya ingin tau #2
Halooo gimana kabar kalian? Udah nambah teman berapa banyak? :))
Oya, ngomong-ngomong tentang teman, aku jadi inget postinganku tahun lalu yang berjudul Pendiamku hanya ingin tau, disitu kutulis aku ingin melakukan perubahan dengan pola pertemananku, and I got it. Benar-benar proses yang panjang dan perlu sedikit perjuangan fttt *ngelap jidat wkkw
Dulu, setahun lalu, setelah aku selesai menulis postingan tersebut, aku tak hanya berhenti disitu saja, esoknya aku memulainya dengan tindakan. Aku dengan keseharianku yang duduk dengan teman sebangku itu-itu aja mulai menjadi seseorang dengan keseharian berbangku nomaden. Walaupun saat itu juga temanku tersebut datang ke mejaku dan memohon kepadaku agar aku mau duduk sebangku dengannya lagi, namun kutolak mentah-mentah. Tekatku sudah bulat. Aku benar-benar ingin berubah.
Diawali dengan kebisaan baruku tersebut, nggak semudah itu aku mendapatkan teman, mungkin karena efek terlalu lamanya pendiamku jadi aku bingung saat ingin memulai pembicaraan dengan teman-temanku, bahkan tiap kata yang ingin kukeluarkan dari mulutku saja aku harus memikirkannya saking nggak taunya mau ngomong apa, cukup lama, ya kira-kira dua bulanan aku menjadi orang yang seperti itu. Setalah aku mulai lancar mencari topik pembicaraan, saat itu pula aku sadar bahwa dikit demi sedikit temanku sudah mulai bertambah. Aku juga sudah tidak terlalu pendiam lagi. Ssttttt tau nggak sih guys, buat jadi orang yang cerewet, hal yang sangat signifikan kurasain tu tentang obrolannya, ternyata orang cerewet banyak membicarakan hal-hal nggak penting, yang yah you know lah berapa banyak topik di dunia ini -yang nggak penting- yang bisa dibicarain, pantes aja mereka nggak berhenti ngomong wkkw. Bayangin aja mereka ngomong "kalian tau nggak sih tadi pagi tu aku gini gini gini gini" ya njuk ngopo gitu lho.. Itu, hal itu yang bikin agak kress di masa transisiku dari pendiam ke cerewet. Nggak tau ini karena efek zona nyaman yang secara kan ya aku udah setengah tahun jadi pendiam atau emang karena orang cerewet kebanyakan ngomongin hal nosense?! Hmm Tapi lagi-lagi aku ingat tekatku bahwa aku harus merubah sifat pendiamku, and I tried to talk about nosense too, konyol kan wkkw ya mau gimana lagi abis nggak ada topik kalo nggak gitu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan dibetah-betahin. Sampe kenaikan kelas dibetah-betahin. And ya! About the result? So pasti lah sesuai harapan, teman bertambah, mulai dianggep, dan banyak manfaat lainnya. Tapi kalo mudhorotnya? Kubelum bandingin sih hehe.
Kenaikan kelas kupikir itu adalah hal yang benar-benar kesempatan emas banget buat aku ubah pandangan mereka ke aku. Bahkan hari pertama masuk sekolah di kelas yang baru aja aku udah sok-sokan duduk sama mantan anak kelas sebelumnya yang beda kelas sama aku (biasanya kebanyakan orang yang dapat kelas baru bakal sebangku dengan orang yang pernah sekelas dengannya). Hari kedua aku masih sok-sokan, hari ketiga juga, tapi hari selanjutnya kutepar wkwk kubalik lagi sebangku dengan teman kelasku sebelumnya, nggak tau sampe berapa bulan. Setelah bisa menyesuikan diri dengan suasana kelas baru, aku mulai datang siang, yang secara nggak sadar membuat aku tersisihkan dari bangku deretan teman kelasku sebelumnya karena emang deretan itu paling favorit anak kelasku (mipa 1) dan anak kelas mipa 2, ya udah mau gimana lagi toh udah terlanjur basah, sekalian aja wkkw, akhirnya aku balik lagi dengan kebiasaan berbangku nomaden, awalnya benar-benar susah sih karena kan kalo waktu di mipa 1 aku udah tau mereka tapi belum pernah sebangku sama mereka, nah di kelas baruku ini aku benar-benar nggak tau mereka, bahkan namanya aja aku gatau tapi aku harus duduk sebangku sama mereka. Nah dari situ temanku mulai bertambah lagi, melebihi teman-temanku yang masih tetap duduk dengan teman kelas lama mereka. Saat mereka lagi dekat-dekatnya dengan teman lama mereka, justru aku lagi asyik-asyiknya nambah teman, sampai berbulan-bulan, bahkan sampai setengah tahun aku hidup nomaden.
Sama kayak yang udah aku bilang sebelumnya, punya teman banyak nggak akan berarti apa-apa kalo kamu nggak cerewet, lagi-lagi aku harus membuat diriku betah dengan celotehan nosense. And now, I realise, bahwa maksudnya orang cerewet cerita kayak gitu tu bukan berbicara tentang nosense, tapi hanya ingin berbagi aja, agar hidup mereka nggak kosong. Gituu.. Hampir dua tahun aku menemukan pemahaman itu wkwkkwk
Semua efek dari berbangku nomaden dan berbicara tentang hal apa aja itu membuat aku kembali disukai dengan teman-temanku, pertemanan waktu SMP dulu yang aku kangenin, sekarang di SMA aku bisa rasain lagi. Mereka akan merasa kehilangan kalo aku nggak ada. Bukti kecilnya,beberapa hari lalu waktu pelajaran agama, aku dan teman-temanku lagi ngomongin tentang kematian, lalu secara naluriah, aku minta maaf ke teman-temanku, terus teman-temanku bilang kalo mereka sayang sama aku, aku nggak boleh minta maaf, mereka takut aku jauh dari mereka, padahal ya guys, aku minta maafnya tu biasa aja, nggak kubuat-buat serius atau gimana, tapi mereka langung takut gitu. Bukti kecil lainnya lagi, beberapa hari lagi, gak sampe satu minggu lagi aku akan karya wisata ke Lombok dengan teman-teman seangkatanku, nah perkamar itu 4 orang, kebetulan kelompokku dan salah satu kelompoknya temanku baru bertiga, terus kata panitianya masing-masing dari kelompok kita akan ketambahan satu orang (yang juga teman seangkatan), kelompokku sih fine-fine aja, tapi kelompoknya temanku itu nggak mau, maunya sama aku, aku disuruh pindah sama mereka ke kelompok mereka dan kelompokku nggak ngizinin aku pindah, ya intinya aku ditarik-tarik gitu, sampe aku mau dijajanin segala biar aku mau pindah kelompok gitulah. Intinya aku direbutin, aku dianggep, aku ada dalam list pilihan teman mereka, padahal ada banyak pilihan, tapi mereka pilih aku. Bukti kecil lainnya lagi, teman-temanku ada yang OSP dan aku nggak ikut OSP, nah teman-temanku yang ikut OSP sepulangnya dari OSP kan main ke cafe gitu, terus mereka check Path nulis caption "Minus" dan nge-tag aku padahal aku nggak ikut mereka main ke cafe. Kalian tau kan maksudnya? Saat mereka main tanpa aku aja mereka masih ingat aku, mereka berharap aku ada disana sama mereka. Aku ada dalam list pilihan teman mereka. Padahal teman mereka banyak, nggak cuma aku, sekelas banyak, seangkatan banyak, puluhan, ratusan, tapi mereka nulis minus dan cuma ngetag aku doang, hanya aku doang. Guys tiga bukti tadi nyata. Punya teman tu rasanya benar-benar kayak agh kugatau lagi mesti gimana ngeskpresiinnya, kalo lagi seneng bisa juga sampe ngakak, kalo lagi sedih bisa juga sampe nangis. Dirimu juga bener-bener kayak berguna buat orang lain dan sangat berpengaruh ke emosi mereka. Saat kamu jadi pendiam, kamu nggak akan bisa ngerasain hal-hal semacam ini, kamu nggak bisa ngerasain gimana mereka nulis 'minus' saat kamu nggak ikut kongkow-kongkow sama mereka, kamu nggak bisa ngerasain direbutin sana-sini, kamu nggak bisa ngerasain dibolak-baliknya emosimu, kamu nggak bisa ngerasasin. Aku tau kok, dan aku pernah memikirkannya bahwa emang sejatinya sekolah itu ya belajar, dateng pagi-ngedengerin guru njelasin-istirahat-ndengerin guru njelasin-pulang, emang seaslinya kegiatan di sekolah seperti itu, sebenarnya kalo di dunia ini mereka memilih untuk nggak saling kenal satu sama lain, kegiatan belajar-mengajar juga tetep jalan kok.. Tapi asli, hidup kalian akan sepi banget nget nget, datar pula, surah Al Hujurat ayat 13-nya kemana? Kita di dunia ini emang diciptakan untuk saling mengenal satu sama-lain. For being an introvert, it's not a totaly wrong, but being an extrovert is funnier, bagiku sih gitu..
Semangat ya gays, milih jadi introvert atau extrovert, semuanya bagus kok, cuma cari senyamannya kalian aja, cari yang menurut kalian lebih menguntungkan, terhindar dari dosa semacam ghibah sana-sini, nyinggung sana-sini atau making a big, huge, large conntection. Terserah kalian, semua balik ke diri kalian masing-masing, manfaat dan mudhrorotnya pasti ada kok, jadi jangan takut buat jadi salah satunya..
Oya, ngomong-ngomong tentang teman, aku jadi inget postinganku tahun lalu yang berjudul Pendiamku hanya ingin tau, disitu kutulis aku ingin melakukan perubahan dengan pola pertemananku, and I got it. Benar-benar proses yang panjang dan perlu sedikit perjuangan fttt *ngelap jidat wkkw
Dulu, setahun lalu, setelah aku selesai menulis postingan tersebut, aku tak hanya berhenti disitu saja, esoknya aku memulainya dengan tindakan. Aku dengan keseharianku yang duduk dengan teman sebangku itu-itu aja mulai menjadi seseorang dengan keseharian berbangku nomaden. Walaupun saat itu juga temanku tersebut datang ke mejaku dan memohon kepadaku agar aku mau duduk sebangku dengannya lagi, namun kutolak mentah-mentah. Tekatku sudah bulat. Aku benar-benar ingin berubah.
Diawali dengan kebisaan baruku tersebut, nggak semudah itu aku mendapatkan teman, mungkin karena efek terlalu lamanya pendiamku jadi aku bingung saat ingin memulai pembicaraan dengan teman-temanku, bahkan tiap kata yang ingin kukeluarkan dari mulutku saja aku harus memikirkannya saking nggak taunya mau ngomong apa, cukup lama, ya kira-kira dua bulanan aku menjadi orang yang seperti itu. Setalah aku mulai lancar mencari topik pembicaraan, saat itu pula aku sadar bahwa dikit demi sedikit temanku sudah mulai bertambah. Aku juga sudah tidak terlalu pendiam lagi. Ssttttt tau nggak sih guys, buat jadi orang yang cerewet, hal yang sangat signifikan kurasain tu tentang obrolannya, ternyata orang cerewet banyak membicarakan hal-hal nggak penting, yang yah you know lah berapa banyak topik di dunia ini -yang nggak penting- yang bisa dibicarain, pantes aja mereka nggak berhenti ngomong wkkw. Bayangin aja mereka ngomong "kalian tau nggak sih tadi pagi tu aku gini gini gini gini" ya njuk ngopo gitu lho.. Itu, hal itu yang bikin agak kress di masa transisiku dari pendiam ke cerewet. Nggak tau ini karena efek zona nyaman yang secara kan ya aku udah setengah tahun jadi pendiam atau emang karena orang cerewet kebanyakan ngomongin hal nosense?! Hmm Tapi lagi-lagi aku ingat tekatku bahwa aku harus merubah sifat pendiamku, and I tried to talk about nosense too, konyol kan wkkw ya mau gimana lagi abis nggak ada topik kalo nggak gitu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan dibetah-betahin. Sampe kenaikan kelas dibetah-betahin. And ya! About the result? So pasti lah sesuai harapan, teman bertambah, mulai dianggep, dan banyak manfaat lainnya. Tapi kalo mudhorotnya? Kubelum bandingin sih hehe.
Kenaikan kelas kupikir itu adalah hal yang benar-benar kesempatan emas banget buat aku ubah pandangan mereka ke aku. Bahkan hari pertama masuk sekolah di kelas yang baru aja aku udah sok-sokan duduk sama mantan anak kelas sebelumnya yang beda kelas sama aku (biasanya kebanyakan orang yang dapat kelas baru bakal sebangku dengan orang yang pernah sekelas dengannya). Hari kedua aku masih sok-sokan, hari ketiga juga, tapi hari selanjutnya kutepar wkwk kubalik lagi sebangku dengan teman kelasku sebelumnya, nggak tau sampe berapa bulan. Setelah bisa menyesuikan diri dengan suasana kelas baru, aku mulai datang siang, yang secara nggak sadar membuat aku tersisihkan dari bangku deretan teman kelasku sebelumnya karena emang deretan itu paling favorit anak kelasku (mipa 1) dan anak kelas mipa 2, ya udah mau gimana lagi toh udah terlanjur basah, sekalian aja wkkw, akhirnya aku balik lagi dengan kebiasaan berbangku nomaden, awalnya benar-benar susah sih karena kan kalo waktu di mipa 1 aku udah tau mereka tapi belum pernah sebangku sama mereka, nah di kelas baruku ini aku benar-benar nggak tau mereka, bahkan namanya aja aku gatau tapi aku harus duduk sebangku sama mereka. Nah dari situ temanku mulai bertambah lagi, melebihi teman-temanku yang masih tetap duduk dengan teman kelas lama mereka. Saat mereka lagi dekat-dekatnya dengan teman lama mereka, justru aku lagi asyik-asyiknya nambah teman, sampai berbulan-bulan, bahkan sampai setengah tahun aku hidup nomaden.
Sama kayak yang udah aku bilang sebelumnya, punya teman banyak nggak akan berarti apa-apa kalo kamu nggak cerewet, lagi-lagi aku harus membuat diriku betah dengan celotehan nosense. And now, I realise, bahwa maksudnya orang cerewet cerita kayak gitu tu bukan berbicara tentang nosense, tapi hanya ingin berbagi aja, agar hidup mereka nggak kosong. Gituu.. Hampir dua tahun aku menemukan pemahaman itu wkwkkwk
Semua efek dari berbangku nomaden dan berbicara tentang hal apa aja itu membuat aku kembali disukai dengan teman-temanku, pertemanan waktu SMP dulu yang aku kangenin, sekarang di SMA aku bisa rasain lagi. Mereka akan merasa kehilangan kalo aku nggak ada. Bukti kecilnya,beberapa hari lalu waktu pelajaran agama, aku dan teman-temanku lagi ngomongin tentang kematian, lalu secara naluriah, aku minta maaf ke teman-temanku, terus teman-temanku bilang kalo mereka sayang sama aku, aku nggak boleh minta maaf, mereka takut aku jauh dari mereka, padahal ya guys, aku minta maafnya tu biasa aja, nggak kubuat-buat serius atau gimana, tapi mereka langung takut gitu. Bukti kecil lainnya lagi, beberapa hari lagi, gak sampe satu minggu lagi aku akan karya wisata ke Lombok dengan teman-teman seangkatanku, nah perkamar itu 4 orang, kebetulan kelompokku dan salah satu kelompoknya temanku baru bertiga, terus kata panitianya masing-masing dari kelompok kita akan ketambahan satu orang (yang juga teman seangkatan), kelompokku sih fine-fine aja, tapi kelompoknya temanku itu nggak mau, maunya sama aku, aku disuruh pindah sama mereka ke kelompok mereka dan kelompokku nggak ngizinin aku pindah, ya intinya aku ditarik-tarik gitu, sampe aku mau dijajanin segala biar aku mau pindah kelompok gitulah. Intinya aku direbutin, aku dianggep, aku ada dalam list pilihan teman mereka, padahal ada banyak pilihan, tapi mereka pilih aku. Bukti kecil lainnya lagi, teman-temanku ada yang OSP dan aku nggak ikut OSP, nah teman-temanku yang ikut OSP sepulangnya dari OSP kan main ke cafe gitu, terus mereka check Path nulis caption "Minus" dan nge-tag aku padahal aku nggak ikut mereka main ke cafe. Kalian tau kan maksudnya? Saat mereka main tanpa aku aja mereka masih ingat aku, mereka berharap aku ada disana sama mereka. Aku ada dalam list pilihan teman mereka. Padahal teman mereka banyak, nggak cuma aku, sekelas banyak, seangkatan banyak, puluhan, ratusan, tapi mereka nulis minus dan cuma ngetag aku doang, hanya aku doang. Guys tiga bukti tadi nyata. Punya teman tu rasanya benar-benar kayak agh kugatau lagi mesti gimana ngeskpresiinnya, kalo lagi seneng bisa juga sampe ngakak, kalo lagi sedih bisa juga sampe nangis. Dirimu juga bener-bener kayak berguna buat orang lain dan sangat berpengaruh ke emosi mereka. Saat kamu jadi pendiam, kamu nggak akan bisa ngerasain hal-hal semacam ini, kamu nggak bisa ngerasain gimana mereka nulis 'minus' saat kamu nggak ikut kongkow-kongkow sama mereka, kamu nggak bisa ngerasain direbutin sana-sini, kamu nggak bisa ngerasain dibolak-baliknya emosimu, kamu nggak bisa ngerasasin. Aku tau kok, dan aku pernah memikirkannya bahwa emang sejatinya sekolah itu ya belajar, dateng pagi-ngedengerin guru njelasin-istirahat-ndengerin guru njelasin-pulang, emang seaslinya kegiatan di sekolah seperti itu, sebenarnya kalo di dunia ini mereka memilih untuk nggak saling kenal satu sama lain, kegiatan belajar-mengajar juga tetep jalan kok.. Tapi asli, hidup kalian akan sepi banget nget nget, datar pula, surah Al Hujurat ayat 13-nya kemana? Kita di dunia ini emang diciptakan untuk saling mengenal satu sama-lain. For being an introvert, it's not a totaly wrong, but being an extrovert is funnier, bagiku sih gitu..
Semangat ya gays, milih jadi introvert atau extrovert, semuanya bagus kok, cuma cari senyamannya kalian aja, cari yang menurut kalian lebih menguntungkan, terhindar dari dosa semacam ghibah sana-sini, nyinggung sana-sini atau making a big, huge, large conntection. Terserah kalian, semua balik ke diri kalian masing-masing, manfaat dan mudhrorotnya pasti ada kok, jadi jangan takut buat jadi salah satunya..
Komentar
Posting Komentar