Ngalor-ngidul level satu
Event pertama sekolah adalah
Tutup Buka Tahun dengan mengusung tema Retro. Bagiku hal ini sangat baru
mengingat di SMP tak pernah ada acara semacam ini. Maklum SMPku walau ditengah
kota tapi anak-anaknya terkenal ndeso dan bureng.
Kaget. Takut. Bingung. Seneng.
Gak sabar. Semua jadi satu dan tak terdefinisikan. Ada banyak pertanyaan
berkelebat seperti aku harus pake baju apa, aku harus gimana, dan semacamnya. Sampai
H-1 event tersebut, aku masih belum menemukan baju yang pas untukku. Aku sudah
jalan-jalan ke mall, toko baju, pasar, hampir semua tempat tidak menjual baju
retro. Kata salah satu temanku, retro itu baju era 8an. Lemari ibu pun tak
luput dari sasaranku. Tetap saja aku merasa bingung baju apa yang harus
kukenakan besok. Hingga suatu ketika aku mengeluhkan masalahku pada Mbak Oliv,
pacarnya Masku. Dari situlah semua masalah terpecahkan. Mbak Oliv nyari
kesana-sini baju retro, dari punya ibunya hingga pinjem ke temen-temennya. Kata
mbak Oliv “Ama tenang aja to, pokoknya 2 jam sebelum Ama berangkat, bajunya dah
ada.” Lega. Seneng denger kata-kata mbak Oliv.
Hari H, pukul 3 sore aku bertemu
mbak Oliv di rumah. Mbak Oliv menepati janji. Ia membawakanku baju sesuai
perkataannya kemarin. You know guys, baju era 80an itu bukan seleraku banget. Sebenernya
malu pake baju model kayak gitu, tapi lagi-lagi mbak Oliv menenangkanku dengan
bilang “Nggakpapa, Ama. Emang kayak gitu, mesti temen-temenmu juga kayak gitu
wes, percaya sama Mbak.” Dan alhasilpun aku memercayainya. Perkataannya benar.
Saat aku sampai sekolahku, semua orang memakai baju setipe dengan bajuku, jadi
aku tidak kelihatan norak. Yaiyalah kan temanya emang gitu haha.
Di depan sekolahku, aku bertemu
teman sekelasku, Novia. Karena acaranya tersebut venue-nya back yard, aku dan
Novia jalan menuju lapangan belakang sekolah. Tapi tiba-tiba ada segerombolan orang
naik motor melempari batu ke arahku, Novia dan temanku lainnya. Lari kencang.
Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan. Saat aku lari, aku melihat ketua OSISku
juga lari, tapi larinya berlawanan arah dengan lariku. Setelah beberapa menit
kemudian, orang-orang yang melempari kita batu tersebut sudah pergi, entah apa
yang mereka, para pria bicarakan, yang jelas Alhamdulillah aku tidak kenapa-napa.
Novia pun juga.
Setengah jam kemudian pintu
gerbang lapangan belakang dibuka. Aku dan segerombolan anak sekolahku memasuki
lapangan. Dari yang tadinya hanya lapangan biasa, sekarang sudah disulap
menjadi seperti tempat party. Ada panggung di arah timur lapangan. Ada banyak
penjual di sekitar barat lapangan, dekat dengan meja tamu. Didekat situ juga,
aku bertemu teman sekelasku lainnya. Semenit kemudian aku sudah siap dengan
kamera SLR milik mbak Oliv yang sebelum berangkat tadi dipinjamkan kepadaku.
Tak terasa maghrib pun tiba, bagi
yang muslim menunaikan ibadah solat, bagi yang sedang tidak solat atau yang non
muslim, bisa langsung masuk ke tengah lapangan karena setelah semua selesai
solat, acara akan dimulai. Aku kebetulan saat itu sedang tidak solat. Lalu aku
dan teman-temanku yang non muslim menuju ke tengah lapangan. Satu menit. Dua
menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Acara solat pun selesai. Semua temanku
sudah berkumpul kembali.
Acara pertama adalah padus dari
ekstrakulikuler padus kelas 10. Pembukaan yang cukup keren. Acara selanjutnya
ada band-band, ekskul chrees, dan lain sebagainya dengan didampingi MC yang
lucu-lucu. Semua teman-temanku juga sudah mulai asyik dengan kesibukannya sendiri-sendiri.
Sebenarnya yang inti dari acara ini adalah kebersamaan dan mengenal warga
sekolah. Jadi, it’s not a big problem kalo kita nggak nyimak panggung. Disana
ada foto boot juga. Selalu rame. Kalo kita mau foto disana, kita perlu ngantri
dulu. Bahkan kalo kita nggak mau ngantri, foto dimana aja bukan masalah serius.
Seolah-olah ini moment berharga, hampir tiap orang mengabadikan momennya
masing-masing bersama teman-teman terdekatnya.
Di acara ini. Di acara pertama
sekolahku ini. Aku. Bagiku. Bagiku ini spesial. Selain aku bisa dekat dengan
teman-teman sekelasku, aku juga bisa dekat dengan salah satu anak kelasku. Awalnya
aku cuma iseng ngajakin foto berdua sama dia. Berdua. Tapi nggak tau kenapa
rasa-anehnya ada sampe sekarang.
Acara Tutup Buka Tahun sekolahku
pun selesai pukul 11 malam, ditutup dengan letusan kembang api yang sangat
indah. Setelah itu kami semua pulang. Esoknya libur. Esoknya lagi aku harus
masuk sekolah seperti biasanya.
Disekolah, karena aku dateng
siang, aku mendapat bangku paling belakang. Kukira itu bukanlah kesialan atau
masalah yang serius. Kucelingukan kepalaku kekanan dan kekiri, mencari sosok
dua hari yang lalu. Tak kutemukan. Kupikir ia tidak berangkat hari ini karena
kecapaian. Tapi dugaanku salah. Pada menit-menit terakhir sebelum bel, kudapati
dia masuk kelas. Dengan langkah kaki seperti biasanya, dia berjalan menuju
bangku disampingku. Dag-dig-dug-duer. Seketika bumi berhenti berputar. Udara
pun sudah hilang dari peradaban. Matahari tak tampak. Waktu pun menghilang. Begnong.
Ya, itu reaksi pertamaku. Dia-duduk-disampingku. Yaaa nggak sebangku sih,
tapikan tetep aja sebelahan.
Waktu pun mulai berputar kembali
setelah diberhentikan. Matahari pun sekarang terlihat sangat cerah. Udara pun
terasa sangat sejuk. Bumi pun sudah kemali berputar. Aku sudah mulai bisa
berpikir jernih lagi. Kuberanikan diriku menanyakan kenapa ia hampir saja
telat. Dengan wajah polos seperti biasanya ia menjawab “Tadi ban motorku bocor
di jalan, terus aku berangkat naik TJ. Untung aja nggak telat.” Jelasnya. Aku
manggut-manggut tanda mengerti penjelasannya. Setelah itu tak ada lagi
kata-kata yang terucap diantara kita meski dia duduk disampingku. Canggung.
Canggung banget malah. Sejak hari itu hingga detik ini tiap kali aku ketemu dia
pasti aku canggung. Aneh sih. Ini bukan rasa suka, tapi tetap saja tak
terdefinisikan.
Sudah hampir setahun. Sebentar
lagi aku kelas dua SMA. Namun kita, aku dan dia masih tetap canggung. Kita
hanya akan bertegur sapa kalau kita nggak sengaja berpapasan dan itupun kalo
posisi kita berdua sama-sama sendirian, dia akan menyapaku dengan ditambahi
senyumnya. Aku pun hanya mengekor tingkah lakunya.
Bukan suka. Aku yakin banget rasa
ini bukan rasa suka. Kalaupun nantinya akan menjurus ke sana, hingga detik ini
aku belum mendapati tanda-tandanya, dari diriku maupun dia. Ini bukan rasa
suka. Jelas sekali ini bukan rasa suka. Ini awkward. Aneh. Suatu saat bentuk
kecanggungan ini akan jadi bumerang. Bumerang hubungan pertemananku dan dia.
oh my God... who is he?:)
BalasHapusYou know him laaah.. Btw url blogmu ganti kok gk blg.. kasih tau laah
Hapusweh kamu gatau po? dah pada tau looooo:))) wkwkwk.
BalasHapusNggak tau, kamu ganti ganti terus kok-,-
HapusBiar waktu yang akan menjawabnya semua. :D
BalasHapusWew, waktu nggak jawab-jawab ni, td malem dah Tutup Buka Tahun lg, foto lagi, tapi tetep canggung hahaha
Hapus